Banjir hebat melanda Pati, merendam ratusan rumah, memaksa warga meninggalkan rumah dan mencari lokasi pengungsian aman.
Banjir kembali melanda Pati, Jawa Tengah, dengan intensitas mengkhawatirkan. Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, menjadi titik terparah. Air yang naik lebih dari satu meter memaksa ratusan warga meninggalkan rumah dan mencari tempat aman. Kondisi ini menunjukkan kerentanan daerah terhadap bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Jawa Indonesia.
Genangan Air Meningkat Drastis di Doropayung
Desa Doropayung di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, saat ini tengah menghadapi situasi banjir yang semakin parah. Ketinggian genangan air di permukiman warga terpantau mencapai lebih dari 1 meter, merendam banyak rumah dan infrastruktur. DetikJateng melaporkan pada Minggu (11/1/2026) malam, bahwa kondisi ini terus memburuk dengan cepat.
Berlin, salah seorang warga Desa Doropayung, mengungkapkan bahwa banjir mulai datang sejak Sabtu (10/1) malam. Awalnya, ketinggian air hanya sekitar 20 sentimeter. Namun, dalam waktu singkat, genangan tersebut naik drastis hingga mencapai setinggi lutut, bahkan lebih dari 1 meter.
Kenaikan level air yang cepat ini membuat banyak warga terkejut dan panik. Berlin sendiri yang semula rumahnya masih kering, kini harus melihat ruang tamunya terendam banjir. Situasi ini memaksa banyak keluarga untuk segera mengambil keputusan demi keselamatan dan keamanan.
Warga Mulai Mengungsikan Diri Dan Barang Berharga
Melihat kondisi genangan air yang terus meninggi, warga Desa Doropayung secara berbondong-bondong mulai mengungsi. Banyak di antara mereka memilih Balai Desa sebagai tempat penampungan sementara, sementara sebagian lainnya mencari perlindungan di rumah kerabat yang lokasinya lebih aman dari jangkauan banjir.
Beberapa warga terlihat sibuk menyelamatkan barang-barang perabotan rumah tangga mereka dari ancaman banjir. Berlin, misalnya, memutuskan untuk mengungsi ke rumah saudaranya karena khawatir ketinggian air akan terus bertambah, yang bisa mengganggu aktivitas harian, termasuk sekolah anak-anaknya.
Menurut data dari Perangkat Desa Doropayung, Saleh, jumlah rumah yang terdampak banjir telah meningkat signifikan. Dari semula 83 rumah pada siang hari, kini mencapai lebih dari 100 rumah warga yang terendam. Kondisi ini menunjukkan skala dampak banjir yang semakin meluas dan mendalam.
Baca Juga: Banjir Bandang Hantam Cireundeu, Cimahi 6 Rumah Rusak
Faktor Penyebab Kenaikan Air Dan Ancaman Lebih Lanjut
Saleh menjelaskan bahwa kondisi banjir pada malam hari menunjukkan kenaikan dibandingkan siang hari sebelumnya. Ketinggian air bervariasi antara 75 hingga 90 sentimeter di beberapa titik. Akses jalan yang terdalam bahkan tidak bisa dilewati, memaksa warga untuk mencari rute alternatif.
Peningkatan genangan banjir ini diperkirakan akan terus terjadi. Saleh menyoroti curah hujan yang masih tinggi sebagai salah satu faktor utama. Intensitas hujan yang tidak kunjung reda di daerah hulu menyebabkan volume air yang mengalir ke hilir semakin besar.
Selain itu, Waduk Gembong yang dilaporkan sudah melimpas juga menjadi indikasi kuat akan potensi kenaikan air lebih lanjut. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan penuh dari warga dan pihak berwenang untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Penanganan Pengungsian Dan Bantuan Kemanusiaan
Menanggapi kondisi darurat ini, pihak desa telah menyediakan Balai Desa Doropayung sebagai pusat pengungsian. Sejak sore hari, beberapa keluarga sudah mulai menempati aula balai desa tersebut. Tercatat ada 11 Kepala Keluarga (KK) yang telah mengungsi di sana untuk mencari keamanan.
Selain ke balai desa, sebagian warga juga memilih mengungsi ke rumah tetangga atau kerabat yang lokasi tempat tinggalnya lebih aman. Solidaritas antarwarga terlihat jelas dalam menghadapi musibah ini, di mana banyak yang saling membantu dan memberikan dukungan satu sama lain.
Kondisi banjir di Doropayung ini membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Penyaluran bantuan logistik, kebutuhan dasar, serta dukungan psikososial bagi para korban banjir menjadi sangat krusial. Upaya mitigasi jangka panjang juga perlu dipersiapkan untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.
Jangan lewatkan update berita seputaran Jawa Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari lingkar.news