Home / Budaya & Pariwisata / Geger! Petani Brebes Pakai Kuda Lumping Dan Musik Gaib Usir Tikus Hama, Hasilnya Bikin Melongo!

Geger! Petani Brebes Pakai Kuda Lumping Dan Musik Gaib Usir Tikus Hama, Hasilnya Bikin Melongo!

Petani Brebes Pakai Kuda Lumping Dan Musik Gaib Usir Tikus Hama

Petani di Brebes menggunakan kuda lumping dan musik tarling unik untuk mengusir tikus hama di sawah mereka.

Petani Brebes Pakai Kuda Lumping Dan Musik Gaib Usir Tikus Hama

Di Desa Bulusari, Brebes, petani memadukan inovasi dan kearifan lokal dengan kesenian kuda lumping serta musik tarling untuk mengusir hama tikus dari sawah. Metode unik ini dipercaya ampuh melindungi bawang merah dan padi, sekaligus melestarikan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun, menarik perhatian banyak pihak.

Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di .

Harmoni Kesenian Dan Pertanian, Tradisi Kuda Lumping Anti-Tikus

Para petani di Desa Bulusari, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, menghadapi masalah serius berupa serangan hama tikus. Untuk mengatasi masalah ini, mereka mengadopsi sebuah tradisi unik: menggunakan pertunjukan kesenian kuda lumping. Ritual ini diyakini efektif dalam mengusir hama pengerat yang kerap merusak tanaman pokok mereka.

Pertunjukan kuda lumping ini tidak sekadar hiburan biasa. Ia digelar secara khusus di sekitar area persawahan yang akan ditanami bawang merah. Iringan musik khas lagu tarling pesisiran turut memeriahkan suasana, menciptakan harmoni antara seni dan upaya pertanian tradisional.

Keyakinan para petani ini didasari oleh anggapan bahwa getaran dan kebisingan yang dihasilkan dari pertunjukan kuda lumping dan musik tarling tidak disukai oleh tikus. Oleh karena itu, kehadiran pertunjukan ini diharapkan mampu membuat hama tikus menjauh dan kembali ke habitat aslinya.

Filosofi di Balik Gerakan Kuda Lumping

Kepala Desa Bulusari, Saefudin Trirosanto, menjelaskan bahwa tradisi jaran lumping ini bukan semata-mata hiburan. Lebih dari itu, kesenian ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu terus dilestarikan. Ada makna filosofis mendalam yang terkandung dalam setiap gerakannya.

Secara filosofi, jaran lumping diyakini sebagai simbol “segel kekuatan.” Pada masa lampau, simbol ini digunakan oleh masyarakat untuk mengusir penjajah. Keyakinan akan kekuatan spiritual ini kemudian diwariskan dan dimaknai ulang oleh para petani Bulusari untuk konteks pertanian.

Tradisi ini juga menjadi ritual doa bersama menjelang musim tanam. Unsur spiritual melalui pertunjukan jaran lumping dipercaya mampu mengusir hama, khususnya tikus. Simbolisasi ini diperkuat dengan membawa tikus yang tertangkap, lalu membuangnya ke aliran sungai, sebagai tanda pengusiran.

Baca Juga: Hujan Deras Picu Longsor di Menoreh, Aktivitas Warga Terganggu

Respons Petani Dan Harapan Hasil Panen

 Respons Petani Dan Harapan Hasil Panen​

Nur Wahid, seorang petani bawang merah dari Desa Bulusari, mengungkapkan kekhawatirannya akan serangan hama tikus yang masif akhir-akhir ini. Hama tersebut menggerogoti tanaman bawang merah dan padi, mengancam hasil panen mereka. Ritual jaran lumping menjadi harapan besar bagi mereka.

Dengan adanya ritual jaran lumping di lahan persawahan, para petani berharap tidak ada lagi tikus yang merusak tanaman mereka. Mereka sangat menggantungkan harapan pada tradisi ini untuk melindungi mata pencaharian. Pertanian adalah tulang punggung ekonomi keluarga di desa tersebut.

Harapan terbesar para petani adalah agar hasil panen mereka bisa melimpah dan menguntungkan. Keuntungan ini sangat penting untuk meningkatkan perekonomian keluarga mereka. Luas sawah di Desa Bulusari mencapai 320 hektar, dimiliki oleh sekitar 700 petani, menunjukkan betapa vitalnya pertanian bagi mereka.

Kombinasi Metode Dan Pelestarian Budaya

Selain pertunjukan kuda lumping, para petani juga memiliki cara lain untuk mengatasi tikus yang tertangkap. Sebagian petani yang berhasil menangkap tikus di area sawah akan memasukkannya ke dalam kandang. Tikus-tikus ini kemudian diarak mengelilingi persawahan.

Setelah diarak, tikus-tikus tersebut selanjutnya dibuang ke dalam air sungai oleh para petani. Metode ini merupakan bagian dari keseluruhan ritual pengusiran hama. Kombinasi antara ritual seni, suara, dan penangkapan fisik menjadi strategi komprehensif.

Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Desa Bulusari tidak hanya berjuang melawan hama, tetapi juga aktif melestarikan warisan budaya mereka. Kesenian kuda lumping, yang memiliki nilai sejarah dan spiritual, tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari mereka, menciptakan solusi yang unik dan berkelanjutan.

Jangan lewatkan update berita seputaran Jawa Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari jateng.tribunnews.com
  • Gambar Kedua dari puskapik.com
Tagged: